Teori Pemprosesan Informasi Berbantuan Media
MODEL PEMROSESAN INFORMASI
Pada hakikatnya model pembelajaran dengan
pemerosesan informasi didasarkan pada teori belajar kognitif. Model
pembelajaran tersebut berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan
sistem yang dapat memperbaiki kemampuan belajar siswa. Pemrosesan informasi
menunjuk kepada cara-cara mengumpulkan atau menerima stimulus dari lingkungan,
mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep dan pemecahan
masalah serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal.
Proses informasi dalam ingatan dimulai dari
proses penerimaan informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi
(stroge ) dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informas-informasi yang
telah disimpan dalam ingatan (retrival ). Teori belajar pemerosesan
informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang
mencakup beberapa tahapan.
Ø Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem
syaraf menggunakan kode internal yang merepresentasikan stimulus eksternal.
Dengan cara ini representasi objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi
informasi internal dan siap disimpan.
Ø Stroge adalah informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek
kemudian diteruskan untuk diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka
panjang. Namun tidak semua informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan.
Kunci penting dalam penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi
yang cukup untuk mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka
pendek.
Ø Retrival adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu
pada pemanfaatan informasi yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi
yang disimpan tidak hanya tersedia tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun
secara teoritis informasi yang disimpan tersedia tetapi tidak selalu mudah
untuk menggunakan dan menempatkannya.
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan
atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar
manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang
efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu
urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar
dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Teori pemrosesan informasi umumnya berpijak pada tiga asumsi
berikut :
1.
Antara stimulus dan
respon berpijak pada asumsi, yaitu pemrosesan informasi ketika pada
masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu
2.
Stimulus yang diproses
melalui tahap-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya
3.
Salah satu tahapan
mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan
teori tentang komponen, yaitu komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan
informasi (proses kontrol). Komponen-komponen pemrosesan informasi dipilih
berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas bentuk informasi, serta proses
terjadinya ”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut :
Ø Sensory Receptor (SR)
Sensory Receptor adalah sel tempat pertama kali informasi
diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya,
informasi hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat dan mudah tergangu
atau berganti.
Ø Working Memory (WM)
Working Memory diasumsikan mampu menangkap informasi yang
mendapat perhatian individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi.
KarakteristikWorking Memory adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya
mampu bertahan 15 detik jika tidak diadakan pengulangan) dan informasi dapat
disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi
dapat bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas
disamping melakukan pengulangan.
Ø Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang
telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3)
bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus
atau hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali
informasi yang diperlukan.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi
bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar
merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem
informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih
penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana
proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang
dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan
mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition
of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar
konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning”
mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich
persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a
groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa
: A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving,
is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive
strategy is a control process . An internal process by means of which thinking.
Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu
merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau
guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran
siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1.
Fase
motivasi : siswa yang belajar
harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari
sebelumnya.
2.
Fase
pengenalan : siswa harus
memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian
instruksional, jika belajar akan terjadi.
3.
Fase
perolehan : apabila siswa
memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima
pelajaran.
4.
Fase
retensi : informasi baru
yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka
panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5.
Fase
pemanggilan : pemanggilan
dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya
antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6.
Fase
generalisasi : biasanya informasi
itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana
informasi itu dipelajari.
7.
Fase
penampilan : tingkah laku
yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu
sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar
kepada situasi sesudah belajar.
8.
Fase
umpan balik : para siswa
harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah
mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Asumsi yang mendasari teori-teori pemrosesan
informasi menjelaskan tentang (1) hakekat sistem memori manusia, dan (2) cara
bagaimana pengetahuan digambarkan dan disimpan dalam memori. Konsepsi lama
mengenai memori manusia adalah bahwa memori itu semata-mata hanya tempat
penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam waktu yang lama, sehingga memori
diartikan sebagai koleksi potongan-potongan kecil informasi yang terlepas-lepas
atau saling tidak ada kaitannya. Akan tetapi pada tahun 1960-an memori manusia
mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit yang mengolah dan
mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan
kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur
kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok diterapkan
untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan
metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat
mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid
hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan
bersifat otoriter.
Permasalahan
1. Pada hakikatnya model pembelajaran dengan
pemerosesan informasi didasarkan pada teori belajar kognitif. Bagaimana teori
belajar kognitif itu tolong uraikan !
2. apa pengaruh teori pemprosesan ini terhadap
media pembelajaran khususnya kimia ?
3. apa faktor pencapaian dari teori pemprosesan
baerbantuan media ini ?
4.
apa kelebihan dan
kelemahan dari pada teori pemprosesan informasi ini ?
Saya desi ratna sari akan menjawab permasalahan nomor 4.
BalasHapusKelebihan teori pemrosesan informasi
Dengan menerapkan teori pemprosesan informasi akan membantu meningkatkan keaktifan peserta didik dalam berfikir. Sehingga peserta didik akan didorong untuk berfikir di dalam kegiatan pembelajaran.
Peserta didik akan berusaha untuk mengaitkan proses pembelajaran yang menarik dengan materi yang disampaikan.
Guru dan pendidik di tuntut untuk kreatif dalam kegiatan pembelajaran. Guru dituntut dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan metode belajar yang menyenangkan dan menarik sehingga peserta didik dapat menerima materi dengan baik, sehingga peserta didik akan mudah memahami dan mengingat materi yang disampaikan.
Kelemahan teori pemrosesan informasi
Apabila guru tidak dapat menyampaikan materi secara kreatif dan menarik maka peserta didik tidak dapat menerima materi yang disampaikan dengan baik sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Selain itu apabila ada peserta didik yang tidak aktif dalam proses pembelajaran maka guru akan sulit dalam menyampaikan materi.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 2.
BalasHapusmedia pembelajaran elektronik Khusus nya untuk pemprosesan informasi dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Pebelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pebelajar yang belajar lewat melihat atau sekaligus mendengarkan dan melihat. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman pebelajar terhadap materi ajar.
Saya akan jawab pertanyaan pertama teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
BalasHapus