PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Clark
Adrich dalam bukunya yang berjudul “Simulations and the Future of Learning”
menekankan definisi e-Learning pada kerangka berpikir penggunaan jaringan
komputer. Ia menyatakan bahwa e-Learning merupakan sebuah kombinasi antara
proses, materi dan infrastruktur dalam penggunaan komputer dan jaringannya
dalam rangka meningkatkan kualitas pada satu atau lebih bagian signifikan dari
aspek-aspek rangkaian kegiatan pembelajaran, termasuk di antaranya adalah aspek
manajemen dan aspek pendistribusian materi pelajaran.
e-Learning atau electronic learning
merupakan pembelajaran yang disajikan secara elektronik dengan menggunakan
komputer dan media berbasis komputer. Media komputer yang dimaksud di sini lebih
berorientasi pada penggunaan teknologi komputer dan internet.
Fungsi dan
Tujuan e-Learning
1.
Fungsi
e-Learning
e-Learning sebagai suatu model pembelajaran yang baru
memiliki beberapa fungsi terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom
instruction). Siahaan dalam Kamil (2010), memaparkan fungsi e-Learning tersebut
sebagai berikut:
a) Suplemen; Dikatakan berfungsi
sebagai suplemen atau tambahan apabila peserta didik mempunyai kebebasan
memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak.
Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses
materi pembelajaran.
b) Komplemen; Dikatakan berfungsi
sebagai komplemen atau pelengkap apabila materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam
kelas (Lewis: 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement atau remedial bagi peserta
didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
c) Substitusi; Beberapa perguruan
tinggi di negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan
pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para
mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai
dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa.
2.
Tujuan
e-Learning
Tujuan e-Learning adalah untuk meningkatkan daya
serap dari para pembelajar atas materi yang diajarkan, meningkatkan
partisipasi aktif dari para pembelajar, meningkatkan kemampuan belajar
mandiri, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran. Diharapkan dapat
merangsang pertumbuhan inovasi baru para pembelajar sesuai dengan bidangnya
masing-masing. e-Learning merupakan alternatif pembelajaran yang relatif baru
untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan
berbagai fasilitas teknologi informasi, seperti teknologi komputer baik
hardware maupun software, teknologi jaringan seperti local area network dan
wide area network, dan teknologi telekomunikasi seperti radio, telepon, dan
satelit. Salah satu bagian dari kegiatan e-Learning yang menggunakan fasilitas
internet adalah distance learning, merupakan suatu proses pembelajaran, dimana
pengajar dan pembelajar tidak ada dalam satu ruangan kelas secara langsung pada
waktu tertentu; artinya kegiatan proses belajar mengajar dilakukan dari jarak
jauh atau tidak dalam satu ruangan kelas. Hal ini memungkinkan terjadinya
pembelajaran yang berkesinambungan, artinya pembelajar bisa belajar setiap saat,
balk slang maupun malam hari, tanpa dibatasi waktu perternuan. Berbagai peluang
tersebut diatas rnasih menghadapi berbagi tantangan baik dari kesiapan
iqfrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan peraturan yang mendukung
terhadap kelangsungan e-Learning. Dikemukakan juga sepintas mengenai peluang
dan tangangan media e-Learning, seperti pada media voice mail, audiotape,
audioconference, e-mail, online chat, web based education, videotape, satellite
videoconference, microwave videoconference, dan cable atau broadcast
television.
Kelebihan
& Kekurangan e-Learning
e-Learning
memiliki kelebihan tersendiri bila
dipandang sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran konvensional.
Lebih lanjut, Riyana (2007: 22) menyebutkan kelebihan-kelebihan tersebut
sebagai berikut:
1. Interactivity (Interaktifitas); tersedianya jalur
komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous),
seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous),
seperti forum, mailing list atau buku tamu.
2. Independency (Kemandirian); fleksibilitas dalam
aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan
pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered learning).
3. Accessibility (Aksesibilitas); sumber-sumber
belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di jaringan
Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber belajar
pada pembelajaran konvensional.
4. Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran,
presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan
penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming,
simulasi dan animasi.
Adapun kekurangan e-Learning, diantaranya:
1. Untuk
sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang
mahal untuk membangun e-Learning ini.
2. Siswa yang
tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
3. Keterbatasan
jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan
e-Learning.
4. Bagi orang
yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.
5. Materi tidak
sesuai dengan umur pebelajar.
6. Pemanfaatan
hak cipta untuk tugas-tugas sekolah.
7. Perkembangan
yang tidak terprediksikan.
8. Pengaksesan
yang memerlukan sarana tambahan.
9. Kecepatan
mengakses yang tidak stabil.
10. Kurangnya
pengontrolan kualitas.
Media berbasis internet
a. E-Mail
Elekktronic Mail atau yang lebih
dikenal dengan E-Mail yang dapat diartikan “Surat Elektronik”, merupakan surat
yang pengirimannya menggunakan sarana elektronik yakni dengan menggunakan
jaringan internet. Perlu diketahui bahwa pesan yang dikirim berbentuk suatu
dokumen atau teks bahkan gambar, tentunya yang dapat diterima oleh komputer
lain dengan sarana internet. Peserta didik dapat menggunakan e-mail untuk
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan tugas, dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada pendidik di luar kegiatan belajar mengajar, dan
dapat berkomunikasi lewat e-mail dengan teman-teman, guru, maupun yang
lainnya.
b. Blog
Istilah blog merupakan kependekan
dari web blog. Jika diidentifikasi dari penggalan katanya web dan log dapat
diartikan sebagai “catatan perjalanan” yang tersimpan dalam website. Blog dapat
dijadikan website yang berisikan materi pelajaran yang dituangkan dalam bentuk
tulisan, gambar, bahkan foto, maupun coretan warna warni yang membuatnya lebih
menarik. Blog sebagai media pembelajaran setidaknya ada tiga metode yang bisa
diupayakan yaitu:
a. Blog guru
sebagai pusat pembelajaran. Guru dapat menulis materi belajar, tugas, maupun
bahan diskusi di blognya kemudian murid bisa berdiskusi dan belajar
bersama-sama di blog gurunya tersebut.
b. Blog guru
dan murid yang saling berinteraksi. Guru dan murid harus memiliki blog
masing-masing sebagai sarana mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh
gurunya.
c. Komunitas
bloger pembelajar. Sebuah blog sebagai pusat pembelajaran dengan guru-guru dan
siswa dari berbagai sekolah bisa tergabung dalam komunitas blogger pembelajar
tersebut.
c. Mesin
Pencarian (Search Engine)
Search Engine adalah sebuah program
yang dapat diakses melalui internet yang berfungsi untuk membantu para pengguna
dalam mencari apa yang diinginkan, dengan kata lain search engine dirancang
khusus untuk menyimpan katalog dan menyusun daftar alamat berdasarkan topik
tertentu. Mesin pencarian ini dapat digunakan untuk mengakses berbagai bahan
belajar dan informasi melalui media internet. Telah tersedia banyak situs
search engine yang dapat digunakan untuk mencari informasi di internet,
diantaranya Yahoo, bing, amazon.com, eBay, Wikipedia, Babylon, dan google.
Tetapi yang sering kita gunakan adalah google, yang dapat diakses melalui
http://www.google.com. Untuk melakukan pencarian informasi yang diinginkan,
kita harus memasukkan kata kunci (keyword) pada kotak pencarian.
Permasalahan
1. bagi
pembelajaran apa peranan penting e-learning ini , jelaskan menurut anda
2. apakah
blog bisa dijadikan sumber pelajaran berbasis e-learning ? berikan alasan anda
3. apa keuntungan
tersendiri bagi tenaga pengajar menggunakan e-learning dalam mengajar ?
baiklah saya akan menjawab pertanyaan no 2 yaitu apakah blog bisa dijadikan sumber pelajaran berbasis e-learning ?
BalasHapustentu saja bisa kerena Blog tersebut dapat di design dengan konsep yang dapat menarik minat siswa dalam menjelajahi blog E-Learning yang telah di sediakan guru. Pembuatan blog ini di fungsikan untuk menyediakan bahan ajar secara lengkap baik yang bersifat interaktif maupun non interaktif. Sebagai contoh: Materi bencana alam pada pembelajaran IPS disampaikan dengan menanyakan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan bencana alam, misalnya gunung meletus: guru menayangkan proses gunung meletus. Dengan pembelajaran konvensional siswa tidak dapat melihat secara langsung proses bagaimana terjadinya gunung meletus tersebut. Begitupun banjir, angin puting beliung, dan lain-lain.
Dengan adanya blog ini siswa dapat melihat proses bagaimana terjadinya bencana alam tersebut melalui video yang sudah di upload oleh guru. Semua bahan ajar yang tersedia dalam blog E-Learning tentunya dapat memudahkan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran yang tidak harus dipelajari saat jam sekolah saja, melainkan juga bisa dipelajari dirumah. Didalam blog tersebut juga disediakan soal-soal yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi. Setelah melihat gambar maupun vidio atau membaca materi yang ada didalam blog tersebut, kemudian siswa diarahkan untuk mengerjakan soal-soal yang ada sebagai bahan evaluasi.
Jawaban permasalahan no. 1 :
BalasHapusE-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru/instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002).
Baiklah saya akan menjawab permasalahan ketiga
BalasHapus1. Dengan e-learning, pembelajaran lebih hemat dari segi waktu. Siswa tidak perlu lagi mencatat pelajaran yang dituliskan guru pada papan tulis seperti pada zaman dulu. Siswa dapat meng-copy pelajaran yang guru berikan melalui media flashdisk atau cd. Atau bisa juga guru mengirimkan email silabus materi pekanan yang dipelajari. Secara langsung, guru pun menjadi lebih ringan karena tidak perlu menuliskan materi pada papan tulis.
2. Dengan e-learning, pembelajaran lebih hemat dari segi biaya. Siswa tidak lagi diharuskan mempunyai buku pelajaran, karena buku-buku pegangan itu bisa diperoleh dengan mengunggah buku sekolah elektronik yang ada. Jadi siswa pun tidak perlu membawa tas yang berat berisikan buku-buku pelajaran. Begitu juga, guru cukup membuka laptop atau netbooknya ketika mengajar di kelas.
3. Dengan e-learning, pembelajaran membuat siswa aktif. Siswa yang didampingi orangtua menjadi lebih aktif untuk mencari sendiri buku pelajaran yang dibutuhkan, mengerjakan tugas sekolah seperti kliping dengan bantuan internet.
4. Dengan e-learning, pembelajaran menjadi menyenangkan. Siswa tidak lagi jenuh belajar di kelas dengan selalu duduk manis. Pembelajaran bisa juga diselingi dengan menonton film yang tetap dalam koridor atau tema belajar. Dengan menyeimbangkan antara otak kanan dan kiri, penerimaan materi pada siapa pun akan menjadi lebih mudah. Siswa senang dalam belajar, guru pun menjadi lebih mudah dalam mengajar.